Human Capital pada Era Digital

Human Capital pada Era Digital Dunia telah berubah dan akan terus berubah. Begitu juga dengan penghuninya yang juga terus mengalami perubahan. Generasi milenial akan atau telah mengambil alih kepemimpinan dalam organisasi menggantikan generasi sebelumnya (generasi X dan generasi baby boomers).

Mereka memiliki gaya dan karakteristik yang berbeda tentang cara bekerja dan mengelola organisasi, termasuk di dalamnya cara berinteraksi dan memimpin organisasi.

Sebuah siklus 20 tahunan di mana setiap kurun waktu tersebut terjadi perubahan nilai yang mau tidak mau, generasi sebelumnya harus menyesuaikan diri dengan generasi yang bergabung.

Ada dua generasi yang bergabung di era Industri 4.0 yakni generasi milenial (lahir tahun 1980-1995) dan sebentar lagi generasi z (lahir 1995-sekarang), di mana mereka akan mengacaukan rencana yang telah disusun oleh generasi sebelumnya.

Generasi ini pula yang pertama kali membawa dan mengenalkan teknologi digital ke dalam organisasi/industri. Teknologi informasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan dunia kerja dan sosial media menjadi makanan sehari-hari generasi ini. Oleh karenanya, arus informasi menjadi tidak terbendung.

Organisasi menjadi lebih digital di mana mereka tumbuh sangat cepat dan mencapai banyak hal lebih cepat dari sebelumnya

  Pada era Industri 4.0 organisasi menjadi terbuka, tidak ada rahasia, informasi cepat menyebar, para pekerja menjadi paham apa yang terjadi dengan dunia luar dan dunia luar dengan mudah mengakses semua hal yang dahulu menjadi rahasia organisasi, bahasa kekiniannya disebut KEPO.

Karenanya organisasi harus menjadi lebih lentur dan dinamis dalam merespons segala kemungkinan yang muncul, selalu berubah, dan up to date.

Kelenturan itu mengharuskan organisasi menjadi lebih fleksibel dalam memanajemen prosesnya, baik untuk urusan internal seperti pengelolaan keuangan, produksi, dan SDM maupun urusan eksternal seperti berhubungan dengan supplier, pelanggan, dan lingkungan sekitar.

Organisasi menjadi semakin cepat perubahannya dan membutuhkan adaptasi yang segera. Teknologi informasi dan internet mendukung setiap orang dan setiap organisasi untuk bertindak cepat.

Mereka harus berkompetisi dengan waktu. Bisa kita lihat organisasi-organisasi start up yang saat ini menjelma menjadi organisasi besar. Contohnya saja kapitalisasi Go-Jek yang dalam kurun waktu 2 tahun bisa melibas organisasi transportasi Blue Bird, bahkan sekarang nilainya melampaui maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Ini adalah sebuah bukti bahwa era digital membawa keterbukaan, kelenturan, dan kecepatan.

Begitu juga dalam urusan Human Capital  mengelola tim, generasi milenial yang ketika buku ini ditulis usianya paling tua mencapai 39 tahun sudah berada di puncak atau setidaknya berada Pendeknya masa depan bisnis ada di tangan generasi milenial dan generasi setelahnya.

Generasi ini jika dikelola dengan baik akan membuat organisasi menjadi lebih digital, lebih terbuka, dan lebih lentur memungkinkan organisasi bertumbuh lebih cepat maka era baru sudah hadir, yaitu era HRM 4.0.

Selamat Datang di Industri 4.0

Praktik manajemen sedang berubah secara cepat dan permanen. mengelola manusia Human Capital juga berubah  Akibatnya, kepemimpinan dan budaya organisasi juga berubah. Perubahan ini disebabkan oleh tiga tren, yakni merosotnya manajemen tradisional, revolusi teknologi informasi (internet), dan munculnya generasi milenial yang memasuki lingkungan kerja.

  1. Merosotnya Manajemen Tradisional

Fakta menunjukkan bahwa manajemen, khususnya manajemen bisnis baru ditemukan pada 100 tahun yang lalu, tepatnya ketika era industri dimulai. Manajemen yang kita kenal lengkap dengan perencanaan strategis, struktur organisasi, dan delegasi tugas, serta uraian pekerjaan dan departemen yang mengurusi sumber daya manusia adalah produk abad ke-20.

Sebelum tahun 1900 tidak ada kebutuhan manajemen, ekonomi Amerika –di mana ilmu manajemen ini lahir- bersumber mata pencaharian dari pertanian dan perdagangan. Penemuan teknologi yang mengawali revolusi industri pada awal tahun 1800 mulai muncul dan berjaya mengawali lahirnya ilmu manajemen. Pada awal abad ke-20 inilah ekonomi manufaktur sampai ke puncak pertumbuhannya, di mana kebutuhan manajemen menjadi semakin luas dan kompleks

Frederick Winslow Taylor, sekarang dikenal sebagai Bapak Manajemen Modern merupakan salah satu orang yang pertama kali mempelajari proses bekerja dalam lingkungan industri. Dia mulai mempelajari cara terbaik melakukan pekerjaan dan memotivasi para pekerja untuk mencapai puncak kinerja terbaiknya.

Pada tahun 1911, dia menerbitkan buku berjudul The Principle of Scientific Management.

Saat itulah manajemen terlahir dan kemudian menjadi aturan baku hingga 100 tahun setelahnya. Hingga saat ini, masyarakat luas masih menggunakan proses manajemen, seperti perencanaan strategis, sistem manajemen kinerja, bahkan beberapa konsep mendasar dari bidang kepemimpinan yang berakar dari pendekatan ini.

Henry Ford merupakan salah satu tokoh yang berhasil menerapkan sistem manajemen ini. Dia mengaplikasikan ilmu manajemen ke dalam bisnisnya di mana Ford Motor Company yang didirikannya mampu mengurangi waktu yang diperlukan untuk memproduksi sebuah mode T dari 12,5 jam menjadi hanya 93 menit.

Satu abad setelahnya, Ford mampu memproduksi hampir 10.000 mobil dalam sehari dan hampir satu abad setelahnya Ford merayakan produksi kendaraannya yang ke-350 juta.

Pesatnya ilmu manajemen tidak berdiri sendiri, melainkan dibarengi dengan pesatnya temuan-temuan teknologi/kemampuan manusia untuk menguasai teknologi listrik, mesin pembakaran, dan bahan-bahan kimia yang ikut berkontribusi nyata. Hal ini sama seperti ilmu manajemen.

Pemahaman yang semakin dalam mengenai mesin tersebut menginspirasi manajemen modern untuk memperlakukan organisasi layaknya sebuah mesin. Arus kas keuangan, struktur organisasi, dan kekuasaan menjadi alat kontrol yang ditempatkan di atasnya. Posisinya yang berada di sekeliling para pekerja dan karyawan diharapkan dapat mengikuti instruksi serta arahan. Sama halnya seperti cara kerja gigi-gigi pada sebuah mesin.

Setelah bertahun-tahun dijalankan, para peneliti dan praktisi mulai menentang pendekatan mekanis yang digunakan dalam mengelola manajemen, utamanya manajemen sumber daya manusia. Akhir tahun 1920-an, para peneliti mulai menguji faktor-faktor manusiawi dalam produksi dan menemukan bahwa faktor-faktor sosial memengaruhi kinerja jauh lebih dari yang disadari sebelumnya.

Tahun 1940-an, ahli psikologi Kurt Lewin dan yang lainnya mengembangkan bidang baru, yakni perkembangan organisasi (organization development) yang berfokus pada pergerakan grup dan pembelajaran organisasi.

Pada tahun 1960, Douglas Mc Gregor, seorang profesor sekolah bisnis MIT menerbitkan karya klasik The Human Side of Entreprise. Di dalamnya, Douglas mengemukakan sebuah teori yang dikenal dengan pendekatan “teori X” dan “teori Y” pada manajemen.

Kelompok manajer X percaya bahwa para pekerja pada dasarnya malas dan perlu dipaksa untuk menghasilkan sesuatu, sedangkan kelompok Y percaya bahwa karyawan dapat memotivasi dirinya sendiri dan hanya perlu didukung agar potensi maksimal mereka dapat tercapai.

Meskipun sudah banyak ide dan teori Human Capital  yang terfokus kepada manusia, tetapi hal itu belum pernah mengalahkan dominasi manajemen mesin. Meski era industri telah bergeser ke era informasi, pendekatan manajemen tim belum berubah.

Struktur organisasi, perencanaan strategis, dan manajemen masih bergaya era industri. Pendeknya, hingga saat ini kita masih mengelola tim dengan pendekatan mesin.

Gallup Corporation, sebuah organisasi survei melaporkan bahwa hanya 3 dari 10 karyawan yang berkontribusi aktif dalam pekerjaan, sementara ada 2 di antara 10 karyawan yang tidak berkontribusi sama sekali dalam pekerjaan dan membawa kondisi organisasi ke lingkungan yang lebih buruk. Gallup telah menelusuri kondisi ini sejak tahun 2000.

  1. Revolusi Teknologi Informasi

Dalam bukunya, Igniting the Invisible Tribe, Josh Allan Dykstra menunjukkan bahwa sebelum era internet, terdapat empat sumber daya penting dalam masyarakat yang sangat langka dan berharga. Yang pertama adalah ide, akses kepada ilmu pengetahuan dan informasi, di mana waktu itu hanya bisa diakses melalui universitas, perpustakaan, atau ensiklopedia. Kedua adalah hiburan di mana hanya dapat diakses melalui televisi, radio, atau bioskop. Ketiga adalah sumber daya, baik sumber daya finansial maupun fisik, seperti kendaraan dan sebagainya. Keempat adalah manusia, jejaring yang bisa membantu seseorang mencapai tujuan pribadi.

Namun saat ini, semua hal itu bukan lagi menjadi masalah. Kita menggunakan Google untuk mengakses informasi dan jurnal-jurnal bisnis yang tersebar di internet, mengakses Hook atau Youtube untuk mendapatkan akses hiburan, men-download lagu dengan mudah, menggunakan aplikasi Go-Jek atau Grab untuk mendapatkan sarana transportasi dan lain-lain. Atas semua kemudahan tersebut, kita benar-benar menikmatinya.

Internet juga menjadi saran terjadinya perubahan-perubahan ekonomi, sosial, dan politik sebuah bangsa. Berita viral begitu mudah diakses sehingga menyebar dan memengaruhi banyak manusia, Arab spring yang dimulai tahun 2010 mengawali gerakan demokratisasi di dunia Arab. Internet memang sudah merubah wajah dunia kita saat ini.

Kondisi ini juga berpengaruh kepada manajemen tradisional yang sangat hierarkis dan birokratis. Ketika setiap orang terbiasa dengan kemudahan dan kecepatan, sementara manajemen tradisional justru menjadi penghambat kemudahan dan kecepatan ini.

  1. Generasi Itu Bernama Generasi Milenial

Ya, mereka terlahir ketika teknologi informasi menjadi konsumsi sehari-hari ketika manajemen tradisional yang menganggap manusia seperti mesin mulai dianggap tua. Mereka lahir ketika dua tren yang kami bahas sebelumnya terjadi, dan saat ini mereka sudah masuk ke dunia kerja di mana pada tahun 2020 generasi milenial mulai mengisi posisi-posisi penting dalam organisasi dan organisasi.

Generasi ini menjadi generasi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia untuk saat ini dan nantinya akan menjadi generasi pendorong musnahnya pendekatan manajemen tradisional sekaligus pendorong masuknya teknologi informasi dan manajemen digital ke dalam dunia kerja.

Artinya perlu ada referensi baru, yaitu literatur terkini yang bisa dijadikan sandaran untuk mengelola sumber daya milenial dengan cara yang baru. Pelatihan HRM Mastery   mencoba untuk menjadi literatur dari sekian banyak literatur dan referensi tentang cara mengelola tim pada era saat ini

pembahasan tentang Human Capital saat ini semakin asik karna pada dasarnya bagaimanapun manusia aalah bagian terpenting dalam bisnis

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Butuh bantuan?